myspace codes
Click here for Myspace glitter graphics and Myspace layouts
bismillah
hijab

Sampaikan Walau Satu Ayat

DIPERSILAHKAN JIKA INGIN MENGCOPY DAN MENYEBARLUASKAN ARTIKEL PADA BLOG INI.

CINTA KITA CINTA ILAHI...UKHUWAH KITA UKHUWAH FILLAH..

ANDAI PERJUANGAN INI MUDAH, PASTI RAMAI MENYERTAINYA...
ANDAI PERJUANGAN INI SINGKAT. PASTI RAMAI YANG ISTIQAMAH...
ANDAI PERJUANGAN INI MENJANJIKAN KESENANGAN DUNIA, PASTI RAMAI TERTARIK PADANYA...
TETAPI HAKIKAT PERJUANGAN BUKAN BEGITU...
TURUN NAIKNYA..SAKIT PEDIHNYA...
UMPAMA KEMANISAN YANG TAK TERHINGGA...
ANDAI REBAH BANKITLAH SEMULA..
ANDAI TERLUKA INGATLAH JANJINYA
INGATLAH WAHAI SERIKANDI ISLAM.....

Senin, 20 Desember 2010

Tundukkan Pandangan


Menundukkan pandangan bukan berarti harus menundukkan kepala sehingga berjalan tak fokus arah, atau memejamkan mata hingga tidak melihat sama sekali. Secara bahasa, غَضُّ البَصَرِ (gadh-dhul bashar) berarti menahan, mengurangi atau menundukkan pandangan.

Maksudnya adalah menjaganya dan tidak melepas kendalinya hingga menjadi liar. Pandangan yang terpelihara adalah apabila seseorang memandang sesuatu yang bukan aurat orang lain, lalu ia tidak mengamat-amati keelokan parasnya, tidak berlama-lama memandangnya, dan tidak memelototi apa yang dilihatnya. Singkatnya, menahan dari apa yang diharamkan oleh Allah Subhaanahu Wata’ala dan Rasul-Nya untuk kita memandangnya. Dalil Kewajiban Menahan Pandangan
1. Dari al-Qur’an

Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman, artinya,

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya.” (QS. an-Nur [24]: 30-31)

Para ulama tafsir menyebutkan bahwa kata ‘min’ dalam ‘min absharihim’ maknanya adalah sebagian, untuk menegaskan bahwa yang diharamkan oleh Allah Subhaanahu Wata’ala hanyalah pandangan yang dapat dikontrol atau disengaja, sedangkan pandangan tiba-tiba tanpa sengaja dimaafkan. Atau untuk menegaskan bahwa kebanyakan pandangan itu halal, yang diharamkan hanya sedikit saja.

Berbeda dengan perintah memelihara kemaluan yang tidak menggunakan kata min karena semua pintu pemuasan seksual dengan kemaluan adalah haram kecuali yang diizinkan oleh syariat saja (nikah).

Larangan menahan pandangan didahulukan dari menjaga kemaluan karena pandangan yang haram adalah awal dari terjadinya perbuatan zina.

Berkata Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithy—rahimahullah, “Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa yang menjadikan mata itu berdosa karena memandang hal-hal yang dilarang berdasarkan firman Allah Subhaanahu Wata’ala yang artinya,

“Dia mengetahui khianatnya (pandangan) mata dan apa yang disembunyikan oleh hati”. (QS. Ghafir: 19).

Ini menunjukkan ancaman bagi yang menghianati matanya dengan memandang hal-hal yang dilarang.”

Imam al-Bukhary—rahimahullah—berkata, “Makna dari ayat (an-Nuur: 31) adalah memandang hal yang dilarang karena hal itu merupakan pengkhianatan mata dalam memandang.” (Adhwa` al-Bayan 9/190).

2. Dalil dari Hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
Dari Jarir bin Abdillah Radhiyallahu Anhu berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang pandangan tiba-tiba (tanpa sengaja), lalu beliau memerintahkanku untuk memalingkannya.” (HR. Muslim).

Maksudnya, jangan meneruskan pandanganmu, karena pandangan tiba-tiba tanpa sengaja itu dimaafkan, tapi bila diteruskan berarti disengaja.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Seorang laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki lain, dan seorang perempuan tidak boleh melihat aurat perempuan lain. Seorang laki-laki tidak boleh bersatu (bercampur) dengan laki-laki lain dalam satu pakaian (selimut), dan seorang perempuan tidak boleh bercampur dengan perempuan lain dalam satu pakaian (selimut).” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud & Tirmidzi).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepada Ali Radhiyallahu Anhu, “Wahai Ali, janganlah kamu ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya, karena yang pertama itu boleh (dimaafkan) sedangkan yang berikutnya tidak.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud dan dinyatakan hasan oleh al-Albani).

Imam An-Nawawy mengatakan, “Pandangan kepada selain mahram secara tiba-tiba tanpa maksud tertentu pada pandangan pertama maka tak ada dosa. Adapun selain itu, bila ia meneruskan pandangannya maka hal itu sudah terhitung sebagai dosa.”

الْعَيْنَانِ تَزْنِيَانِ، وَزِنَاهُمَا النَّظَرُ

“Dua mata itu berzina, dan zinanya adalah memandang.” (Muttafaq ‘alaih).

Imam Bukhari dalam menjelaskan hadits ini mengatakan bahwa selain kemaluan, anggota badan lainnya pun dapat berzina.

Akibat Negatif Memandang yang Haram

1. Rusaknya hati
Pandangan yang haram dapat mematikan hati seperti anak panah mematikan seseorang atau minimal melukainya. Segala peristiwa bermula dari pandangan, dan api yang besar itu berasal dari percikan api yang kecil. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, "Sesungguhnya seorang mukmin jika berbuat dosa maka akan ada satu noda hitam di hatinya, jika ia bertaubat dan berlepas dari dosanya maka hatinya akan menjadi bersih, namun jika dosanya bertambah maka noda hitam tersebut akan semakin bertambah hingga menutupi hatinya, itulah noda yang disebutkan oleh Allah Azza Wajalla dalam al-Qur`an (artinya), "Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya dosa yang mereka perbuat itu menutupi hati mereka."
2. Terancam jatuh kepada zina
Ibnul Qayyim—rahimahullah—berkata bahwa pandangan mata yang haram akan melahirkan lintasan pikiran, lintasan pikiran melahirkan ide, sedangkan ide memunculkan nafsu, lalu nafsu melahirkan kehendak, kemudian kehendak itu menguat hingga menjadi tekad yang kuat dan biasanya diwujudkan dalam amal perbuatan (zina).

Akses terhadap pornografi yang begitu mudah, hingga kalangan anak-anak sekalipun telah menjadi pemicu meningkatnya pemerkosaan dan seks bebas. Semuanya berawal dari mata yang khianat terhadap larangan-larangan Allah Azza Wajalla.
3. Lupa ilmu
Imam Waki’ bin Jarrah salah seorang guru Imam Syafi’i berkata, “Sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat.”

Kebiasaan seseorang menahan pandangan dari hal-hal yang diharamkan akan menjadikan hatinya bersih. Kebersihan hati memudahkan masuknya nur atau cahaya petunjuk dari Allah Subhaanahu Wata’ala kedalamnya.

Sebaliknya kebiasaan memandang hal-hal yang diharamkan Allah, seperti aurat orang lain maka akan menjadikan hatinya kotor dengan kemaksiatan dan dosa yang lama-kelamaan semakin menutupi kebersihan hatinya sehingga sulit ditembus oleh nur hidayah-Nya.

4. Turunnya bala’
Amr bin Murrah berkata, “Aku pernah memandang seorang perempuan yang membuatku terpesona, kemudian mataku menjadi buta. Kuharap itu menjadi kafarat penghapus dosaku.”
5. Menambah lalai terhadap Allah Azza Wajalla dan hari akhirat
6. Rendahnya nilai mata yang memandang yang haram dalam pandangan syariat Islam


Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Jika seseorang melongok ke dalam rumahmu tanpa izinmu, lalu kau sambit dengan kerikil hingga buta matanya, tak ada dosa bagimu karenanya.” (Muttafaq ‘alaih).

Manfaat Menahan Pandangan
Di antara manfaat menahan pandangan adalah:

1. Membebaskan hati dari pedihnya penyesalan, karena barangsiapa yang mengumbar pandangannya maka penyesalannya akan berlangsung lama.
2. Hati yang bercahaya dan terpancar pada tubuh terutama mata dan wajah, begitu pula sebaliknya jika seseorang mengumbar pandangannya.
3. Terbukanya pintu ilmu dan faktor-faktor untuk menguasainya karena hati yang bercahaya dan penuh konsentrasi.
4. Mempertajam firasat dan prediksi
Syuja’ Al-Karmani berkata,
“Siapa yang menyuburkan lahiriyahnya dengan mengikuti sunnah, menghiasi batinnya dengan muraqabah, menundukkan pandangannya dari yang haram, menahan dirinya dari syahwat, dan memakan yang halal, maka firasatnya tidak akan salah.”
5. Menjadi salah satu penyebab datangnya mahabbatullah (kecintaan dari Allah Subhaanahu Wata’ala).
Al-Hasan bin Mujahid berkata,

غَضُّ البَصَرِ عَنْ مَحَارِمِ اللهِ يُوْرِثُ حُبَّ اللهِ.

“Menahan pandangan dari apa yang diharamkan Allah akan mewarisi cinta Allah.”

Selasa, 07 Desember 2010

Who am I ?

Who am I ?
Belumkah tiba saatnya bagi kita meninggalkan dan menanggalkan segala kepura-puraan yang ada, lantas menggantinya dengan kesejatian semata, bahwa siapapun kita hanya hamba Allah belaka.
= Pertanyaan Pertama =
Who am I ?
: Kita adalah hamba Allah.
= Pertanyaan Kedua =
Siapa hamba Allah ?
Apakah hanya ngaku-ngaku saja / benar-benar hamba Allah ?. Lalu kemanakah kita berjalan ? ke surga ataukah neraka ?.
QS. At Takwir : 26
“ maka ke manakah kamu akan pergi “
Hamba Allah adalah setiap manusia yang menjadikan hidup ini sebagai perjalanan menuju surga. Apapun menjadi kebaikan bagi kita. Segala yang ada di dunia ini adalah kepura-puraan, kecuali berjalan menuju surga.
Hidup adalah perjalanan panjang….
Dan di ujung perjalanan ini, Allah sudah menyiapkan untuk kita sebuah tempat kembali…
Surga dengan segala kenikmatannya
Neraka dengan segala siksanya
Andai kita jujur menjadikan surga sebagai tujuan hidup kita, maka sepenuhnya dan selamanya kita jalani hidup ini sebagai hamba Allah.
Kita bagai anak panah yang melesat, menuju sasaran yang PASTI.
= Surga Jannatun Na’im =
Hamba Allah memiliki sifat CONSISTENCY (Konsisten / istiqamah).
= Pertanyaan Ketiga=
Gimana caranya menjadi hamba Allah ?
Perjalanan ke surga butuh skenario…
Hidup ini hanyalah panggung sandiwara. Setiap pemain sandiwara pasti sadar bahwa ia harus memainkan perannya sesuai dengan skenario yang telah dibuat oleh sutradara.
Lalu, skenario siapakah yang selama ini kita gunakan ?. Yaitu skenario ALLAH. ALLAH telah membuat skenario, dalam surat Ali Imran : 135.
135. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.
Hamba Allah adalah siapa saja yang saat berbuat dan tidak berbuat selalu sesuai dan sejalan dengan ketentuan dan kehendak Allah.
” Jika kebaikanmu membuatmu bahagia, dan kejelekanmu membuatmu susah, maka kamu adalah seorang mukmin (al hadits) .”
Miniatur tentang skenario hidup ini, kita temukan di dalam shalat…
Kegagalan akan menjadi ancaman yang serius bagi siapa saja yang tidak menjalani skenario yang dibuat oleh Allah.
= Pertanyaan Keempat =
Hamba Allah kah kita ?
Dalam surat Al A’raf : 79, disebutkan bahwa :
79. Maka Shaleh meninggalkan mereka seraya berkata: “Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat.”
:: Ciri seorang hamba Allah ::
Hamba Allah adalah sosok yang telah mempersandingkan kemuliaan sifat-sifat ahli surga dalam mahligai hidupnya.
Sifat-sifat ahli surga :
Tidak silau dengan godaan dunia
Jatuh kasihan terhadap semua yang pernah menyakiti
Menjadikan hidup ini hamparan sajadah tempat kita beramal dengan amal yang paling disukai oleh Allah Ta’ala.


Oleh : Ustad Syatori Abrdurrouf

Saat ku Telah Tiba

Perlahan…. tubuhku ditimbun tanah
Perlahan…. semua pergi meninggalkanku
Masih terdengar jelas langkah langkah terakhir mereka
Aku  sendirian….. di tempat gelap yang tak pernah terbayang,
Sendiri…, menunggu keputusan…
Istri.., belahan hati, belahan jiwa pun… pergi
Anak.., yang di tubuhnya mengalir darahku ,……… juga  pergi
Apa lagi  sahabatku.., kawan dekat.. ,rekan bisnis.., atau orang-orang lain, …aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka.
Istriku menangis.. Sedih kehilangan suaminya
Istriku bingung menghadapi beban yang menghadang tanpa diriku
Istriku bingung menghadapi masalah yang kutinggalkan
Anakku menangis kehilangan orang yang seharusnya melindungi dan mendidiknya
Menyesal ..sudah tak mungkin,
Tobat ….tak lagi diterima
dan ma’af pun… tak mungkin terdengar… …..
aku sendiri yang harus mem per tanggungjawab kan apa yang pernah kulakukan…
Ya ALLAH …..(entah dari mana kekuatan itu datang setelah sekian lama aku tak lagi dekat dengan Nya)
Jika  Kau beri aku satu kesempatan lagi
Jika  Kau pinjamkan lagi  beberapa hari milik-Mu
Beberapa  hari saja…
Aku akan berkeliling, memohon ma’af pada mereka :
  • yang selama ini telah merasakan kezaliman ku
  • yang selama ini sengsara karena ulahku
  • yang tertindas dalam kuasaku
  • yang selama ini telah aku sakiti hati nya
  • yang selama ini telah aku bohongi
Aku harus kembalikan  semua harta kotor ini,
–        yang kukumpulkan dengan gembira dan penuh semangat
–        yang kukuras dari sumber yang tak jelas
–        Yang merupakan milik orang lain
–        yang kumakan dengan penuh nikmat.
Ya ALLAH,
Beri aku lagi beberapa hari milik-Mu,
–        untuk berbakti kepada ayah dan ibu tercinta , teringat akan kata kata kasar dan keras yg menyakitkan hati mereka ,
–        maafkan aku.. Ibu dan Ayah ….mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayang mu
–        untuk berkumpul lagi dengan istri dan anakku, karena Aku sungguh ingin bersujud dihadap-Mu, bersama mereka …
–        Untuk beramal sholeh dengan sungguh sungguh dan tulus
Menyesaaaal…. sekali rasanya
Karena  waktuku berlalu tanpa makna dan penuh kesia sia an
Kesenangan  yg pernah kuraih dulu, tak ada artinya sama sekali
mengapa ku sia sia kan hidupku yang hanya sekali ini
Andai ku bisa putar ulang waktu itu …
Aku dimakamkan hari ini…………….
Dan  semuanya menjadi tak terma’afkan……….
Dan  semuanya menjadi terlambat…………
Dan  aku harus sendiri …………
Untuk  mempertanggung jawabkan semua perbuatanku selama hidup yang baru berlalu………………

Kenali Diri Menuju Kenal Alloh

Oleh Ustadz Drs. Syathori Abdurrouf

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur “ (QS. As Sajdah : 9)
Segala puji bagi Alloh yang telah menciptakan kita sebagai terbaik dan memberikan kita bekal untuk mengenal Alloh dengan sebenar-benarnya baik yang berupa hati, akal, pendengaran, penglihatan, dan masih banyak lagi bekal yang diberikan Alloh kepada kita agar kita mengenal Alloh dengan sebenar-benarnya. Alangkah hinanya kita bila kita tidak mengenal Dzat yang telah menciptakan kita, menghidupkan kita, mematikan kita, mencukupi segala kebutuhan kita, mencurahkan kasih saying-Nya kepada kita dan seabrek anugrah lain yang diberikan kepada kita. Semoga kita menjadi hamba yang selalu mensyukurinya.
Sahabat sekalian, ketika kita sedang berduaan dengan orang lain, tentu rasanya akan berbeda antara dengan orang yang kita kenal dengan yang tidak kita kenal. Berduaan dengan orang yang kita kenal tentu akan lebih mengasyikkan ketimbang dengan orang yang tidak kita kenal. Lebih-lebih kepada orang yang kita cintai, tentu akan memberikan kesan yang mendalam dibanding yang tidak. Demikian pula bila kita berduaan  dengan Alloh , tentu rasanya akan lain bila kita belum mengenal Alloh  dibandingkan kita sudah mengenal Alloh.  Lebih-lebih bila kita menaruh rasa cinta kita pada-Nya.
Semakin banyak mengenal orang semakin banyak pula kita bergaul. Dan dengan banyak bergaul tentu akan banyak hal yang berpengaruh dalam kehidupan kita. Lebih-lebih bila kita banyak bergaul dengan Alloh , tentu akan sangat berpengaruh dalam kehidupan kita. Sekedar sapaanpun, akan berbeda antara orang yang banyak mengenal Alloh  dengan orang yang tidak mengenal Alloh. Orang yang mengenal Alloh minimal dia akan mengucapkan Assalamu’alaikum. Bukankah itu do’a agar Alloh  memberikan keselamatan bagi kita.
Sahabat sekalian terkadang untuk mengenali benda dalam suatu penelitian seberapapun biayanya kita berusaha keras untuk mendapatkannya. Namun untuk mengenal Alloh  kita seringkali mengacuhkannya. Untuk mengenal Alloh  berbeda dengan untuk mengenal suatu benda. Untuk mengenal Alloh  dapat ditempuh dengan Al Quran, hadits, dan lewat mahluk-Nya. Di dalam Al Quran, Alloh  menyebut manusia minimal dalam 5 nama. Lima nama ini kalau kita perhatikan dengan baik, menerangkan perubahan demi  perubahan pada diri kita. kelima nama tersebut adalah :
  1. 1. Basyarun
Kata basyarun dapat kita temui dalam surat Al Kahfi (18) : 110. Dalam terjemahan bahasa Arab kata basyar berarti manusia biasa. Kata ini diambil dari kata bisyarotun yang berarti kulit luar, yang mewakili wujud atau penampakan. Manusia yang termasuk dalam kategori ini adalah orang yang melihat atau menilai sesuatu dari penampilan luarnya saja, seperti pakaiannnya, wajahnya, atau materi-materi lain yang melekat pada dirinya.
Sosok basyar ini hampir ada pada setiap anak kecil, yang mana mereka menilai segala sesuatu hanya dari kemasan luarnya saja. Sifat  ini juga ada pada kebanyakan binatang,  semisal kita menilai  seekor burung dari suaranya, atau kucing dari bulunya. Dan seiring dengan bertambahnya usia, ke-basyar-an ini juga akan berubah. Lalu bagaimana dengan kita. Apakah kita akan menilai seseorang dari luarnya saja. Menilai seseorang karena cantiknya wajah, bagusnya pakaian, mewahnya kendaraan, tingginya kedudukan. Lalu apa bedanya kita dengan anak kecil!. Padahal Alloh Subhanahu wa Ta’ala memuliakan seseorang bukanlah dari penampakannya, melainkan dari tingkat ketaqwaannya. Sebagaimana penegasan Alloh dalam QS. Al Hujurat (49) : 13, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantaramu di sisi Alloh  adalah orang yang paling bertaqwa diantaramu “.
  1. 2. Insan
Kata insan dapat kita jumpai dalam surat Al A’laq : 2. Kata insan berasal dari kata nissanun yang berarti lupa. Alloh  memberi gelar insan karena manusia tempatnya lupa. Namun bukan berarti manusia harus sering lupa. Orang yang pelupa tentu akan sangat rugi. Dalam berdagang misalnya, kalau ia sering lupa harga tentu akan lebih sering rugi ketimbang untung. Manusia akan rugi jika memposisikan diri sebagai insan. Dia akan menjadikan dirinya lupa, dan alangkah ruginya kalau sampai ia melupakan saat perjumpaan dengan Alloh , melupakan adanya hari akhir, melupakan adanya siksa kubur, siksa neraka, dan melupakan nikmatnya surga.
Saudara sekalian, orang akan tahu  makna bahagia manakala ia pernah menderita, seperti orang dikatakan sakit manakala pernah sehat. Demikian pula sosok insan. Sosok insan adalah sosok yang kadang lupa dan kadang ingat, kadang berbuat baik dan kadang berbuat jahat sehingga kerugian tidak selamanya melekat pada dirinya. Sosok seperti ini banyak terdapat pada anak yang menginjak dewasa.
  1. 3. Insun
Kata insun dapat kita jumpai dalam surat Adz Dzariyat : 56. Kata insun diambil dari kata annisun atau annisa’, yang berarti lembut. Sahabat sekalian, sosok insun adalah sosok yang sudah menampakkan kelembutan. Ia mempunyai kepekaan dan kecenderungan kepada kebenaran. Lazimnya, sosok ini ada pada manusia yang sudah baligh. Orang dalam kategori ini akan mudah tergetar hatinya ketika mendengar ‘asma Alloh . Ia juga memiliki rasa empati ketika melihat kesulitan orang lain, dan mudah tersentuh hatinya ketika mendengar kebaikan, kabenaran ataupun nasehat dari orang lain. Itulah sosok insun.

  1. 4. ‘Abdun
Kita dapat menjumpai kata ‘abdun juga pada surat Adz Dzariyat : 56. Orang yang memposisikan diri benar-benar sebagai insun suatu saat  akan menjadi ‘abdun. Sosok ‘abdi adalah sosok yang merasa hina di hadapan tuannya. Demikian pula dengan ‘abdun, ia akan senantiasa merasa hina di hadapan Alloh. Sosok ini senantiasa menyesuaikan dirinya dengan apa yang dikehendaki Rabbnya.
Alkisah seorang cucu yang berusaha menyenangkan hati neneknya dengan menyuguhkan teh untuknya. Si anak telah diberitahu takaran gula untuk nenek tersebut. Namun setelah dirasakannya, terasa kurang manis, sehingga ditambahinya gula. Ternyata hingga malam hari minuman itu masih utuh. Setelah ditanya kepada sang nenek, ternyata beliau merasa minuman itu terlalu manis baginya.
Begitulah perumpamaan ukuran sesuatu yang kita anggap baik, belum tentu baik menurut orang lain dan sesuatu yang kita anggap baik belum tentu baik menurut Alloh. Oleh karena itu sahabat sekalian, hendaknya kita selalu memohon pada Alloh  untuk diberi petunjuk-Nya, karena Dialah Yang Maha Tahu segala sesuatu. Firman Alloh  Subhanahu wa Ta’ala  : “..boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal baik bagimu menurut Alloh , dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal amat buruk bagimu menurut Alloh . Alloh  Maha Mengetahui sedangkan kamu tidak.” (QS. Al Baqarah (2) : 216)
  1. 5. Khalifah
Kata ini kita jumpai pada surat Al Baqarah : 30. Khallifah sering diartikan sebagai pemimpin. Sosok pemimpin adalah sosok pilihan. Dan sosok khalifah adalah sosok yang dicintai Alloh. Kehadiran sosok ini selalu dirindukan orang. Tiadalah ia memandang kecuali pandangannnya menyejukkan orang lain. Tiadalah ia berucap kecuali menentramkan orang lain. Setiap kata, setiap tingkah lakunya akan mengingatkan orang akan ke-Agungan Alloh  Azza wa Jalla. Itulah sosok khalifah.
Demikianlah gelar-gelar bagi kita sebagai manusia. Yang menjadi persoalan dan perlu kita renungkan adalah termasuk golongan manakah kita ini ?.
Semoga Alloh  menggolongkan kita sebagai golongan terbaik, yang mencintai-Nya dan dicintai-Nya, yang mengingatkan orang akan ke-Agungan Alloh bila melihat kita, yang selalu memberikan kemanfaatan bagi siapapun yang merasakan kehadiran kita. Amiin. Wallahu a’lamu bish showab wastaghfirullahal azhiim.
Ya Alloh , jadikanlah kami hamba yang selalu mengingat-Mu dan meng-Agungkan-Mu. Jadikanlah setiap kata, setiap suara dan setiap laku kami semakin mendekatkan kami kepada-Mu. Jadikanlah kehadiran kami di dunia ini tidak sia-sia. Jadikanlah kehadiran kami di manapun selalu memberikan kesejukan dan ketentraman bagi siapapun. Matikanlah kami dalam keadaan husnul khatimah. Berilah rahmat-Mu kepada kami dengan surga-Mu Ya Alloh  Ya Rabbi, Amiin.
[ Jelajah Hati  “Ketika Sakaratul Maut Menghampiri” ]
Mencintai hidup dengan menghidupkan cinta.
“ Ya Allah, hidupkan kami dengan cinta, dengan tidak Kau biarkan kami mencintai hidup…”.
Hidup dalam cinta, hanya ada di hati insan yang tidak lagi memiliki cinta dalam hidup, selain cinta kepada Dia Yang Maha Hidup.
Pesan : “ Jangan mengharapkan cinta dari orang – orang yang amat sangat mencintai hidup.”
Karena cinta terhadap hidup adalah padang tandus yang membuat pohon – pohon cinta meranggas, kering, dan akhirnya mati.
“Apakah kita tergolong orang – orang yang masih mencintai hidup?”
Inginkah kita memperoleh husnul khatimah?
Buktikan kalau kita benar – benar ingin husnul khatimah.
Maukah kita mati sekarang?
Kalau kita benar – benar menginginkan husnul khatimah, dari dalam hati, tidak akan memandang waktu kematian itu kapan datangnya.
Cinta hakiki hanya akan mengaliri setiap hati yang selalu basah oleh cinta kepada mati…..
Pertanyaan untuk kita : “ Sudakah cinta terhadap mati membasahi hati kita?”
Siapakah yang harus kita cintai dalam hidup ini?
“yang jauh dengan kita ataukah yang dekat dengan kita?”
Lalu, apakah yang paling dekat dengan kita?
kepastian ataukah kemungkinan? ß
Kalau pasti, apa yang paling pasti dalam hidup kita?
Pernyataan 1: Esok, kita pasti hidup, tapi mungkin saja mati.
Pernyataan 2: Esok, kita pasti mati, tapi mungkin saja hidup.
Ternyata…jarak kita dengan mati jauh lebih dekat dari pada jarak kita dengan hidup.
Lantas kenapa kita belum juga mencintai mati?
Apa yang selama ini kita perbuat baru merupakan gema dari suara LISAN, belum merupakan gema dari suara HATI.
MENJEMPUT KEMATIAN DI BATAS KEHIDUPAN
Perjalanan menuju KUBUR.
Ketika nafas terakhir sampai tenggorokan,
Tiada yang dapat menghapus ketakutan meninggalkan dunia,
Kecuali kesiapan kita.
Ketika tiada lagi kuasa atas raga,
Sadarlah bahwa satu – satunya penyelamat kita adalah amal kita.
“Setiap yang bernyawa pasti akan mati.”
Ada 2 macam kematian :
Husnul khatimah
Suul khatimah
(1). Husnul Khatimah
à adalah mata air bening yang mengalir menuju muara hakiki kehidupan, yaitu : Allah Azza wa jalla
“husnul khatimah itu tidak bisa instant, tapi butuh proses dan perjuangan yang panjang….”
:: Belajar dari mata air, ada 3 langkah menuju husnul khatimah:
Memulai segala aktifitas dengan “KEJERNIHAN”
seperti air yang mengalir petama adalah air yang jernih.
Itulah mengapa, islam mensyari’atkan niat di awal aktifitas kita.
Terus bergerak tiada henti, menuju muara hidup yang hakiki, yaitu Allah Azza wa jalla.
Seperti air dari muara / sumbernya yang kan terus mengalir.
Pantang menyerah menghadapi “KENYATAAN” hidup,sepahit apapun, terus berjalan menapaki garis takdir tanpa “MENGELUH”.
Seperti sungai yang berliku, bekelok – kelok.
(2). Suul Khatimah
berarti melepaskan ajal secara hina penuh nestapa.
“Bagai seekor kambing yang dikuliti dalam keadaan masih hidup.”
“Seperti tubuh yang dililiti kawat berduri, kemudian ujungnya ditarik.”
Musibah suul khatimah terjadi karena manusia membiarkan hdiupnya diselubungi oleh gumpalan  awan hitam dalam masa yang panjang.
:: QS. Al Hadid[57]:16
AGAR CINTA MATI MENGALIRI HATI
Mati adalah keindahan.
Kematian adalah peristiwa tersibaknya tirai penutup yang selama ini menghalangi syaa untuk bisa melihat keindahan hakiki alam sesudah mati.
Jangan biarkan  pintu hati kita terbuka utnuk dimasuki kesenangan dunia.
Karena dunia tidak akan bisa membahagiakan kita. Harta, misalnya. Dia tidak akan bisa membahagiakan hati kita, mungkin bahagia, tapi nafsu kita. Hati kita akan bahagia ketika harta itu kita sedekahkan.
Jangan banyak berkhayal.
Menggantungkan diri pada pucuk harapan dunia yang belum tentu mekar menjadi kuncup keindahan.
Berusahalah untuk tersenyum (membayangkan keindahan yang tak terperikan) setiap mendengar kata MATI.
Milikilah persepsi benar tentang mati.
Merenungkan pedihnya kematian yang datang secara tiba – tiba.
Mengenang beratnya saat – saat sakaratul maut.
Mengingat gelapnya alam kubur.
Merenungkan dasyatnya prahara di hari pembalasan.
“ Akhir yang baik, husnul khatimah, insya Allah”
Keep istiqamah ya !!!
Semoga bermanfaat….
Menjadikan kita cinta akan kematian….menjemputnya, dan menyiapkannya..serta perbekalan untuk perjalanan setelahnya. ^_^
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ^_^

Dan Jejak Itu………..


Jalan dakwah memang tidak bertabur bunga – bunga bahkan malah sebaliknya, ia merupakan satu jalan yang susah dan panjang dengan banyaknya batu sandungan. Namun, sudah menjadi kepastian, bahwa ia jalan yang lurus, jalan yang telah ditempuh para Nabi, Rasul, dan mukmin sejati. Jalan yang menjanjikan surga melebihi luasnya langit dan bumi. Jalan yang mengantarkan kita untuk meraih cinta Sang Pencipta alam raya. Dialah Allah…
Kawan….
Jalan ini hanya bisa ditempuh oleh mukmin berjiwa pejuang, yang dengannya ia bermuram hati, rela berkorban untuk merakit kerja – kerja dalam sunyi dan waktu tanpa batas. Karena jalan dakwah bukan ditentukan atas umur manusia, ia akan terus berjalan walau satu – persatu gugur sebagai sang pejuang. Pasti akan ada yang melanjutkan. Tak kan merasa ada kerugian, karena janji Allah adalah sebuah kepastian….dan kemenangan itu pasti datang…
Dan kapan kemenangan itu datang ?
Ingat kawan, bukan jawaban waktu kemenangan yang kita tunggu, kita angankan. Namun, sudah seberapa banyak dan jauh kita berusaha beramal. Karena sesungguhnya kita tidak disuruh melihat hasil dan buahnya. Bisa jadi, hasil itu bertebaran ketika nafas kita telah terlepas dari raga.
Kawan….
Walau panjang, tapi jalan ini telah meninggalkan deretan jejak – jejak kehidupan. Maka, apakah jejak – jejak kita termasuk salah satu di sana ???! Atau malah, menjadi jejak – jejak yang tertinggal, terhapus, dikarenakan kendurnya niat dan semangat kita ???!
Atau bahkan karena tidak cukupnya bekal kita???!
Sungguh, alangkah menyesal dan merugi kelak kita…
Rasulullah SAW pernah menjelaskan kepada sahabat yang intinya bahwa manusia berjalan diantara harapan yang bisa mengular panjang, tetapi manusia juga diintai ajal yang siap menerkam. Maka kawan, solusi dari itu adalah Tabungan Bekal. Bekal amal yang tiada pernah putus di kala lapang maupun sempit. Karena kawan, dalam amal itu ada ujian. Adapun ujian, ia datang untuk membentur titik terlemah kita. Itulah saat – saat iman diuji. Maka jangan tanyakan apa dan mengapa ujian itu harus menimpa kita. Tapi tanyakan pada diri, dengan apa kita akan menahan benturan itu. Ingat kawan, bukti dari iman adalah amal, dalam amal itu ada pengorbanan. Entah waktu, tenaga, pikiran, harta bahkan jiwa. Dan yang berbicara di sana adalah keikhlasan. Itulah hakekat dari perjuangan. Mungkin lama dan melelahkan. Bila di antara kita tak sudi mengikutinya, akan ada banyak orang lain yang setia menempuhnya.
Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya), supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 23-24).
Maka hadapi benturan – benturan itu dengan mujahadah. Biar kita termasuk dalam daftar panjang deretan jejak – jejak kehidupan itu. Biar kita termasuk orang – orang yang menjemput maut dengan senyuman.
Bukan malah menjadi orang kalah dan merugi, karena telah melewatkan waktu – waktu yang sedikit ini.
Abu Bakar As-shiddiq telah mengingatkan : ”Setiap kalian akan memasuki pagi dan petang dalam takaran usia yang tersembunyi dari pengetahuan kalian. Bila engkau bisa untuk tidak melewatkan setiap jenak usia itu dengan amal kebajikan, maka lakukanlah. Tetapi kalian tidak akan bisa melakukannya tanpa pertolongan Allah. Maka,
bergegaslah, menyusuri rentang – rentang kesempatan yang diberikan jatah usia itu, sebelum ia datang memupus segala pekerjaan. ”
Kawan…
Hari esok masih mimpi, tapi hari ini adalah pasti. Ada banyak kesempatan untuk direngkuh, untuk dikumpul jadi bekal pertanggungjawaban kelak. Bahwa kita ada di deretan jejak – jejak kehidupan itu, yang mengantri untuk mendapat kunci pintu abadi…
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku. ” (QS. Al Fajr : 27-30)

Pola Masalah



Masalah
yang dihadirkan Allah kepada kita bisa menjadi UJIAN tapi bisa juga menjadi AZAB. Tergantung kita menempatkannya. Dan tergantung dosa-dosa kita. Mulai saat ini, dengan keyakinan penuh dari hati, marilah kita selalu berpikir positif terhadap masalah yang datang silih berganti.

Karena masalah adalah ibarat kesulitan yang menghadirkan suatu keistimewaan. Mari kita perhatikan lebih seksama beberapa tandasemesta berikut. Layang-layang bisa terbang tinggi justru ketika gerakan angin berani ia hadapi, melawan arah angin bukan searah mengikuti. Pohon bisa tumbuh subur tinggi justru ketika diberi pupuk yang bau bukannya diberi minyak wangi. Makan terasa nikmat, justru ketika sudah lapar berat. Minum terasa menyegarkan justru ketika haus kian tak tertahankan. Bahkan sang bintang pun bisa terlihat terang, justru ketika sang bintang berani muncul di antara kegelapan malam.


Ya, ketika hadir sebuah masalah maka segeralah mengingat Allah lebih dalam dan lakukanlah INSTROSPEKSI, dan berpikirlah, “Apa yang sudah saya lukakan, sehingga hadir masalah ini?” Berpikir ke depan dan visioner itusangatlah baik, tetapi melihat ke belakang sekilas saja, flash back, insya Allah akan membuat Anda menginjak gas mobil kehidupan Anda dengan lebih yakin. Ibarat Anda sedang mengendarai mobil, tentunya membutuhkan kaca spion sebelum melakukan aksi terobosan yang memukau.
Namun demikian, Anda dilarang untuk selalu melihat kaca spion, sebab bagaimanapun juga finish pasti ada di depan, tidak mungkin ia ada di belakang Anda. Ya, tak baik terlalu lama melihat masa lalu, maafkanlah ia, dan fokuslah pada kenikmatan Allah yang dihadirkan hari ini, seraya bergeraklah ke depan menuju kenikmatan-kenikmatan berikutnya. Artinya, “kaca spion” yang saya maksud adalah kemampuan Anda untuk melakukan aksi INTROSPEKSI dengan cepat ketika masalah itu hadir menimpaAnda. Tanyakanlah ke dalam diri Anda, ke dalam hati yang terdalam di dalam diri Anda, di mana di sana ada ALLAH yang menggenggam hati Anda.

Tanyakanlah kepada hati Anda, artinya tanyakanlah kepada Allah. “Ya Allah, apa maksud semua ini, apa yang harus aku lakukan, aku berserah penuh pada keteraturan yang Engkau buat ya Allah”. Ketika AZAB/PERINGATAN yang menjemput Anda maka segeralah bertaubat dengan
beristighfar, sedangkan tatkala yang hadir itu sebuah UJIAN maka sesungguhnya UJIAN itu hadir sebagai Anugrah, sebab berbagai ujian itulah yang melahirkan potensi dan kualitas Anda yang sejati di kemudianhari. Ya, kadang kita masih bingung apakah Kesulitan yang hadir ini berupa AZAB/PERINGATAN ataukah UJIAN/ANUGERAH. Namun, Jika Anda sudah terbiasa membersihkan diri maka hati kecil Anda akan menginformasikan kepada Anda apakah masalah/kesulitan tersebut sebuah AZAB/PERINGATAN ataukah justru sebuah UJIAN/ANUGERAH. Namun secara prinsip, berdasarkan apa yang penulis alami dan amati, ternyata apabila Anda mendapatkan kesulitan setelah sebelumnya Anda berlaku maksiat, maka kesulitan itu biasanya sebuah PERINGATAN/AZAB, dan ketika Anda mendapatkan kesulitan karena sedang meraih atau mengejar sebuah keinginan/impian/do’a, dan Anda pun tidak sedang berlaku maksiat, maka insya Allah kesulitan itu hadir sebagai UJIAN/ANUGERAH.

Semakin besar keinginan Anda, maka semakin kuat ujiannya. Tapi tak jarang pula Kesulitan hadir sebagai perpaduan antara Peringatan dan Ujian, perpaduan antara Azab dan Anugrah. Hal ini bisa saja terjadi disebabkan ketika Anda sedang mengejar sebuah impian, namun Anda pun tetap melakukan perbuatan maksiat, apalagi dalam mengejar impian itu, Anda terlalu ambisius sehingga nyaris lupa bersyukur, nyaris lupa menikmati kehidupan “saat ini” Anda, dan sibuk membayangkan kenikmatan “masa depan” Anda yang belum pasti. Tapi di balik itu semua, yakinlah bahwa setiap kesulitan yang diikhlaskan dan di-istighfarkan, insya Allahakan melahirkan kemudahan-kemudahan yang penuh dengan keberkahan.

Sahabat, ingatlah bahwa Anda tak perlu berlama-lama di episode INTROSPEKSI ini. Yang jelas tak perlu salahkan siapapun ketika Anda melakukan proses introspeksi ini. Mohon diingat, ini adalah sebuah aksi introspeksi bukanlah identifikasi. Introspeksi itu ke dalam sedangkan identifikasi itu seringkali keluar dan akhirnya berujung pada kesimnpulan bahwa masalah tersebut hadir karena kesalahan orang lain, dan Anda hanyalah korban. Dan itu pastinya kesimpulan yang merugikan Anda. Jangan pernah merasa menjadi KORBAN, apapun masalah Anda.
Sahabat Solusi, ketika masalah itu hadir maka ada pola standar yang harus Anda lakukan. Sungguh, bukan masalahnya yang menjadi masalah, tapi bagaimana sikap Anda ketika masalah itu hadir. Masalah itu adalah sebuah kepastian, tetapi sikap Anda dalam menghadapi masalah itu adalah sebuah pilihan.

Setelah Anda sukses berintrospeksi, maka lanjutkan dengan segera pada langkah AKSI SOLUSI yang luar biasa. Ketahuilah, bahwa Solusi dari masalah Anda seringkali tidak berada pada masalah-masalah yang Anda miliki. Tetapi Solusi Anda berada pada KEHENDAK ALLAH, dimana ALLAH memiliki kehendak bahwa DIA akan membantu Anda jika Anda mau membantu
hamba-hamba Allah lainnya. Itu sebabnya, mulai hari ini JANGAN LAGI MENYELESAIKAN MASALAH Anda dengan cara yang biasa. Tidak perlu habiskan energi untuk terlalu fokus mencari solusi dari permasalahan Anda. Sebab hakekatnya Anda secara pribadi tak memiliki kemampuan apapununtuk menyelesaikan masalah-masalah Anda. Hanya ALLAH yang mampu. Laa haula walaa quwwata illaa billaah. Dalam Surat ALAM NASYRAH kita disuruh MENYELESAIKAN urusan kita dengan bersungguh-sungguh. Nah, tahukah Anda, Apakah URUSAN KITA itu? Urusan kita bukanlah permasalahan pribadi kita, tapi urusan kita adalah membantu menyelesaikan permasalahan orang-orang di sekitar kita. Artinya apa? jika ENGKAU, ingin permasalahanmu beres, maka bantulah bereskan atau selesaikan permasalahan orang-orang di sekitarmu. Perhatikan hadist berikut. Dari Abdullah bin Umar ra, bahwa Rosulullah saw bersabda : "Seorang muslim dan lainnya adalah bersaudara, karenanya janganlah menganiaya saudaranya sendiri dan jangan membiarkannya tersiksa. Siapa saja yang memenuhi hajat saudaranya, maka Allah akan memenuhi hajatnya. Dan siapa saja yang memudahkan kesulitan orang lain, niscaya Allah akan melepaskan kesulitannya di hari Qiyamah. Dan barang siapa yang menutup aib orang lain, niscaya Allah menutupi aibnya di hari Qiyamah." (H.R. Muttafaq Alaih alias Bukhori-Muslim).

Sebetulnya, Masalah itu dihadirkan sebagai ujian apakah kita bisa bersabar dan bersyukur, atau dihadirkan sebagai azab agar kita kembali (taubat) dan istighfar (minta ampun). Dan setelah itu kita bisa dekat kembali dengan-Nya, lalu fokus membantu sesama, jaga kualitask kekhusyuan Sholat dan ibadah lainnya, dan bertawakallah secara penuh kepada Allah SWT. Sobat Solusi, jangan sampai gara-gara kita memiliki masalah, justru kita malah menjadi :
1. Tidak khusyu sholatnya
2. Tidak mau membantu sesama karena merasa bahwa "saya lah yang seharusnya dibantu".
3. Tidak bertawakkal kepada Allah SWT.

Jadi bantulah sesama maka Allah akan membantu kita. Nah, apakah makna ini semua? Sebelumnya, mari kita bayangkan, seandainya MANUSIA di seluruh dunia ini, hanya fokus kepada masalahnya masing-masing, maka bagaimana mungkin bisa terjadi sinergi yang baik. Bahkan, saya pun dulu pernah tidak jadi berbuat baik karena saya teringat atau fokus kepada
masalah saya. Saat itu, ketika saya mau bersedekah kepada seseorang,tiba-tiba ada bisikan pikiran .. "Hai Zen, kok kamu ini ga tahu malu ya,kamu sendiri kan banyak hutang, eh malah sedekah.. apa gak malu sama Allah?" Astaghfirullah.... Sobat Solusi sekalian, mari kita ambil sebuah pembelajaran dari peristiwa tersebut, yaitu jangan sampai kita gagal berbuat kebaikan disebabkan kita fokus kepada masalah kita, cukuplah pengalaman ini menimpa saya. Nah, kesimpulannya adalahketika Anda hari ini sedang memiliki MASALAH, maka sebenarnya Anda
sedang diberikan "tanda" oleh Allah bahwa ada orang-orang di sekitar Anda yang sedang butuh bantuan Anda. Pasanglah antene kebajikan itu, dan lakukan searching dengan hati terdalam Anda... kemudian rasakanlah.... lalu bantulah mereka...., maka perhatikan apa yang terjadi dalam
kehidupan Anda ketika Anda berhasil membantu menyelesaikan masalah-masalah mereka. Tak perlu heran jika justru masalah Anda secara AJAIB menjadi selesai tuntas, atas bantuan Allah SWT.
BukanMasalahnya yang menjadi Masalah, tapi bagaimana sikap Anda ketika masalah itu hadir. Sebab, ternyata dengan washilah berbagai masalah itulah yang membuat Anda tetap berTAHAN dan berTUHAN. Itu sebabnya, Jangan besar-besarkan masalah Anda, sehingga Anda lupa membesarkan Allah, yang memberikan sousi dari masalah Anda.

So, jangan Katakan, "Wahai Allah, masalahku sangat besar," tapi katakanlah, "Wahai masalah, Allah itu Maha Besar."