myspace codes
Click here for Myspace glitter graphics and Myspace layouts
bismillah
hijab

Sampaikan Walau Satu Ayat

DIPERSILAHKAN JIKA INGIN MENGCOPY DAN MENYEBARLUASKAN ARTIKEL PADA BLOG INI.

CINTA KITA CINTA ILAHI...UKHUWAH KITA UKHUWAH FILLAH..

ANDAI PERJUANGAN INI MUDAH, PASTI RAMAI MENYERTAINYA...
ANDAI PERJUANGAN INI SINGKAT. PASTI RAMAI YANG ISTIQAMAH...
ANDAI PERJUANGAN INI MENJANJIKAN KESENANGAN DUNIA, PASTI RAMAI TERTARIK PADANYA...
TETAPI HAKIKAT PERJUANGAN BUKAN BEGITU...
TURUN NAIKNYA..SAKIT PEDIHNYA...
UMPAMA KEMANISAN YANG TAK TERHINGGA...
ANDAI REBAH BANKITLAH SEMULA..
ANDAI TERLUKA INGATLAH JANJINYA
INGATLAH WAHAI SERIKANDI ISLAM.....

Jumat, 03 Desember 2010

Memoar Indah di Jalan Da’wah



Birruh, biddam, nafdiika yaa Islam
Dakwah merupakan aktivitas yang teramat mulia. Dimana orang-orang yang berjuang di jalannya adalah orang-orang pilihan yang akan mendapatkan kebaikan yang berlipat ganda dari sisi Allah SWT. Tentunya menjadi seorang aktivis da’wah, banyak hal yang harus menjadi komitmen dirinya dan konsekuensi baginya agar gelar yang disandangnya sebagai Sang Aktivis Da’wah itu dapat terlihat berbeda dengan yang lain dan tergambarkan dalam setiap aktivitasnya.
Hidup ini adalah pilihan. Berda’wah adalah pilihan. Mereka yang memilih jalan da’wah, meyakini bahwa jalan ini adalah jalan mulia yang berujung bahagia. Mereka yang telah memahami tentang makna kehidupan dan hakikat penciptaan seorang insan, akan senantiasa menambatkan hati dan hidupnya untuk senantiasa mengharap keridhoan Allah SWT. Sudah tentu jalan untuk menuju kenikmatan sempurna nan abadi itu amat terjal dan berliku. Oleh karenanya jalan ini hanya mampu dilalui oleh orang mukmin yang ikhlas dan memiliki keteguhan hati.
Dalam hidup ini… Kita hendak menjadi apa? Dapat diibaratkan, dunia itu seperti perahu besar, berisi banyak penumpang, yang sudah tentu kian berlayar dan memiliki tujuan. Tinggal kita, orang-orang di dalamnya mau memilih menjadi apa, agar perjalanan tersebut kian berlalu dengan aman dan sejahtera, selamat sampai dengan tujuannya. Ada yang bertugas sebagai nakhoda, anak buah kapal, bekerja di bagian mesin, sebagai pembersih lantai kapal, memperbaiki mesin dan badan kapal yang rusak, sekedar duduk dan menumpang, bahkan sampai ada yang malah merusak kapal tersebut dengan melubanginya (entah apa maksud dan tujuannya, dan entah apakah dia sadar atau tidak dengan perbuatannya yang tak hanya merugikan diri sendiri tapi juga membahayakan keselamatan orang lain). Yah, itulah dinamika kehidupan. Para da’I mungkin bisa diibaratkan sebagai orang yang memperbaiki mesin dan badan kapal yang rusak, serta membersihkan kotoran-kotoran yang menempel pada tubuh kapal. Tapi nyatanya masih ada saja orang yang dengan seenaknya mengotori dan dengan sengaja melubangi kapal. Walau sudah susah payah dibersihkan dan diperbaiki, tapi tetap saja perbuatan itu tak henti-hentinya diulangi. Siapa mereka? Mungkin kita sempat berfikir bahwa mereka pasti pelaku maksiat. Namun, pernahkah kita menyadari bahwa terkadang seseorang yang sudah berlabel da’I pun bisa melakukan itu, dengan kelalaian-kelalaian dan maksiat-maksiat yang mereka lakukan? (Astaghfirullah). Itulah yang harus senantiasa menjadi perenungan kita bersama. Kita hendak menjadi apa? Sudah tentu sunatullah yang pasti berlaku adalah bahwa seseorang pasti mendapatkan balasan dari apa yang ia usahakan. Maka kita-lah sendiri yang memilih peran kita dalam melanggengkan bahtera melintasi samudera dunia, guna mempertanggungjawabkan tugas kita sebagai khalifah di muka bumi, hingga menuju kepada keselamatan dunia dan akhirat dengan membawa Islam sebagai cahaya dan rahmat bagi seluruh alam.
Barangkali manusia mengira kitalah orang yang paling merugi, karena banyaknya pengorbanan, energi dan konstribusi yang kita distribusikan untuk kepentingan perjuangan, biarlah mereka menyangkakan itu, tetapi bagi kita kenikmatan bersama dalam barisan dakwah dan obesesi pertemuan dengan Allah lebih besar dari sekedar apa yang kita persembahkan. Beginilah jalan da’wah mengajari kami. Melihat ke masa Rasulullah, tentu langsung tergambar dalam benak kita bersama bagaimana soliditas dan keteguhan para sahabat. Sejarah juga mengajarkan bahwa kemenangan pasti diraih dengan perjuangan, cobaan, ujian dan pengorbanan yang bahkan tak terbayangkan dalam benak manusia bagaimana perih dan pahitnya. Padahal jika kita cermati secara logika, amat mudah bagi Rasulullah untuk memenangkan da’wah dan meluluhlantakkan musuh-musuh Allah, dengan langsung memohon kepadaNya. Seperti yang dimohon oleh nabi Nuh AS dan nabi Luth AS, maka semerta-merta Allah langsung meluluhlantakkan kaum mereka dan digantikan dengan kaum yang baru. Namun tidak dengan Rasulullah. Beliau memilih jalan sukar yang penuh dengan ujian dan cobaan, karena jika kemenangan itu mudah diraih, maka soliditas dan keteguhan para sahabat tidak akan teruji. (Al-Ankabut: 2-3 dan Al-Baqarah: 214). Beliau seperti hendak memberikan teladan kepada ummat-ummat setelahnya bahwa kemenangan yang sesungguhnya dan bersifat kekal adalah kemenangan yang diraih dengan menempuh jalan yang sukar serta penuh pengorbanan, sedangkan kemenangan yang mudah hanya akan diminati oleh orang-orang yang lemah dan sifatnya tidak akan kekal.
Yah, inilah konsekuensi dari sebuah pilihan. Pilihan mulia untuk senantiasa berada di jalan da’wah. Sebab barangsiapa yang tidak terhimpun dalam al-haq maka ia akan dicerai-beraikan oleh kebathilan. Walaupun kewajiban senantiasa lebih banyak dari waktu yang tersedia, namun jangan pernah ada kata berputus asa. Sebab Allah tidak akan memberikan cobaan di luar kesanggupan umatNya. Dan perlu kita ketahui bahwa Allah tidak akan pernah menzhalimi seorang hamba namun manusia-lah yang menzhalimi dirinya sendiri. Bukan Allah yang meninggalkannya, tapi dialah yang memilih untuk meninggalkan Allah. Berbagai ujian dan cobaan senantiasa mengiringi perjalanan hidup manusia semata-mata karena Allah Cinta. Ujian itulah yang kan menjadi pembelajaran, ujian itulah yang menghantarkannya pada kemuliaan, ujian itulah yang membuat seorang manusia lebih tegar dan kerapkali menemukan potensi-potensi di dalam dirinya yang mungkin tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa ia memiliki kekuatan tersebut. Serasa tak ada artinya berbagai macam dan seberapa berat ujian yang menghampiri kita, jika kita sentiasa dekat dengan Allah, yakin dengan janji-janji Allah dan pertolonganNya yang amat dekat.
Tak jarang, ujian tak hanya datang dari luar, namun juga dari dalam. Di dalam kebersamaan, tentu ada fenomena yang tidak mengenakkan. Kita menyadari bahwa jama’ah ini bukanlah jama’ah malaikat. Ada berbagai macam bentuk dan karakter manusia di dalamnya. Dan pada akhirnya, ukhuwah yang mengajarkan kita untuk bersikap sabar, berlapang dada, dan tidak menjadikan perbedaan pendapat sebagai suatu alat perpecahan. Sifat kecewa adalah hal yang manusiawi, namun bagaimana akhirnya kita menempatkan rasa tersebut dengan senantiasa membingkainya dalam rangka kecintaan kepada Allah. Sebuah bangunan yang telah kita bangun bersama hendaknya tidak dibiarkan runtuh begitu saja. Dalam da’wah kita belajar untuk mengerti, dalam ukhuwah kita belajar untuk memahami. Percikan-percikan yang ada jangan menjadi penyulut yang bisa membakar dendam dan kebencian, namun jadikanlah ia sebuah letupan cinta yang mampu menghangatkan hati-hati yang berhimpun didalamnya. Jadikan kesalahan sebagai sebuah pembelajaran. Kita tidak punya hak untuk menghakimi pihak tertentu, tapi dakwah mengajarkan pada bahwa jika bertemu dengan situasi tersebut maka pertama bercerminlah pada diri sendiri. Begitulah indahnya da’wah yang amat mengangungkan persaudaraan. Hingga tingkatan tertinggi dari sebuah ukhuwah adalah itsar yaitu mendahulukan saudaranya dibanding dirinya sendiri. Para da’I lebih mencintai ummat ini daripada diri mereka sendiri. Tiada yang mengetahui selain Allah, berapa malam telah mereka lalui untuk memikirkan kondisi umat ini dan apa yang dialaminya di berbagai aspek kehidupan, hingga mereka hanyut memikirkannya dan menangis.
Sekeping hati dibawa berlari, jauh melalui jalanan sepi. Jalan kebenaran indah terbentang di depan matamu, para pejuang. Akan kuatkah kaki yang melangkah, bila disapa duri yang menanti? Akan kaburkah mata yang meratap, pada debu yang pasti kan hinggap? Mengharap senang dalam berjuang bagai merindu rembulan di tengah siang. Jalannya tak seindah sentuhan mata, pangkalnya jauh ujungnya belum tiba (Saujana-suci sekeping hati). Berpegang teguh dan berputar bersamanya adalah suatu kenikmatan, karena da’wah sesungguhnya adalah estafet perjuangan hingga akhir kehidupan. Yang pasti perjalan ini tidak boleh berhenti, karena memang jalan ini tak berujung, bahkan usia dakwah lebih panjang dari usia kita, wariskan gerakan, hingga Allah tunjukkan Kebahagiaan hakiki bertemu dengan-Nya dalam ridho-Nya.

Tidak ada komentar: